0

Religi di “Tanah Jawa”

Mau ku ungkapkan bagaimana orang-orang Jawa menghargai agamanya, terutama Islam. Aku hanya mengambil sampel di daerah Mbahku tinggal. Paling tidak ini merupakan salah satu bagian yang kecil yang teramati olehku dari bagian-bagian besar. Setelah ku amati, ternyata orang-orang Jawa sangat menghormati dan menghargai agamanya, hal ini terlihat dari berbagai kegiatan yang dilakukan. Memang kebanyakan orang tua yang sesepuh yang lebih banyak mengikutinya.

  1. Masjid. Masjid kecil dekat dengan rumah Mbahku tak pernah sepi dengan orang-orang yang ingin beribadah ke “Rumah Allah”. Setiap ada adzan untuk shalat, selalu ada orang-orang yang ingin shalat berjamaah. Sebelum iqamah, selalu ada pujian-pujian dan shalawat yang terdengar di TOA masjid.  Sementara itu, orang-orang melaksanakan shalat tahiyatul masjid maupun qabliyah (rawatib). Setelah dzikir dan do’a, orang-orang ini tidak serta merta meninggalkan masjid, tapi salam-salaman antar jamaah. Tentu saja, antar sesama jenis. Setelah itu baru pulang ke rumah masing-masing. Hal ini bertolak belakang dengan masjid-masjid yang ada di kotaku, memang zamannya masjid-masjid dibangun megah-megah, namun penghuninya sedikit sekali. Aku bersyukur, masih ada yang meramaikan masjid kecil ini. Tapi entah, andaikan generasi sesepuh ini meninggal, adakah generasi  muda akan melanjutkan? Bukankah shalat di masjid lebih berpahala daripada shalat sendiri
  2. Ngaji.  Anak-anak kecil di sini diwajibkan mengaji setiap selesai shalat magrib. Sayangnya, disini nggak ada TPA, sehingga cuma ngaji saja. Dan salutnya, setiap malam jum’at, setelah shalat magrib anak-anak ini yasinan bareng2. Duh, anak-anak di tempat ku tinggal (Sumatera) belum diajarkan yasinan. Jadi, nggak heran kalau udah banyak orang Jawa yang hapal yasin di luar kepala.
  3. Di masjid, setiap malam jum’at di adakan pengajian yasin antar ibu-ibu maupun bapak-bapak. Yang isinya juga ada shalawat dan pujian2, juga ngirim do’a kepada yang telah meninggal. Diakhir acara, akan disuguhkan secangkir teh panas serta makanan ringan. Ada waktu-waktu dalam seminggu, dimana orang-orang diundang yasinan oleh tuan rumah untuk mengantarkan yasin kepada orang-orang yang meninggal dalam keluarga itu.
  4. Ceramah. Ceramah diadakan setiap malam selasa, sekitar  jam 9 sampai jam 10 malam. Mata rasanya ngantuk minta ampun. Tapi, respon dari masyarakat sangat baik untuk menghadirinya. Dan juga ada shalawat2 serta do’a-do’a. Di akhir acara, seperti yang aku jabarkan dalam point dua, disuguhkan teh panas dan juga makanan ringan
  5.  Sarasean. Setiap hari kamis maupun jum’at, orang-orang atau penduduk disini akan ke kuburan untuk mengantarkan yasin kepada keluarga mereka yang telah meninggal, membersihkan kuburan lalu menaburkan bunga-bunga  yang wangi seperti mawar, melati, kenanga, pandan. Dan ramai sekali hari itu, orang-orang ke kuburan. Namun sayangnya, ada juga kuburan yang tidak terurus, banyak rumput liar tumbuh disekelilingnya, sepertinya kuburan itu udah berumur lama sekali.
  6. Namun, ada hal yang kurang ku suka pada shalat tarawihnya. Shalat tarawih+witirnya 23 rakaat, namun pelaksanaannya cepat sekali. Bacaan shalatnya cepat sekali. Dan sulit untuk mengikutinya. Karena mungkin aku orang Sumatera. Di masjid kami, shalat tarawih+witirnya 11 rakaat, tapi pelan dan mudah diikuti. Sepertinya, aku harus banyak belajar. Haahahahaaa


Sekian dan terima kasih. Mungkin ada banyak hal yang belum ku jabarkan.

0 komentar:

Posting Komentar

Back to Top