Pendakian pertamaku adalah ke
Gunung Slamet (3432 mdpl) pada tanggal 6 – 8 Juni 2013. Mungkin bagi sebagian
orang beranggapan untuk apa capek-capek naik gunung, apalagi untuk perempuan.
Namun bagiku tidak. Itu adalah suatu tantangan sendiri bagiku. Meskipun
akhirnya, kapok naik gunung lagi. Hahaha…
Aku
menyukai alam, tak terkecuali gunung. Dan apalagi aku pernah bercerita bahwa
aku menyukai luar angkasa dan itu pasti berhubungan dengan ketinggian. Sudah
sejak lama, sejak kelas 5 SD aku mengikuti kegiatan Pramuka yang berumur
singkat. Saat itu ada kegiatan jalan – jalan. Kami menaiki sebuah bukit dengan
batu-batu besar dekat Kantor PDAM.
Sebenarnya bukan
bukit, tapi gundukan tanah yang tinggi, yang disekitarnya masih rapat belantara
pepohonan, meskipun bau kemenyan tercium selama menaikinya. Ketika aku sampai
di atas, aku melihat bukit-bukit yang mengungkung kotaku. Dan rasanya senang berada
di atas sana. Sejuk, dan luas. Aku bisa melihat pemandangan di sekitarku. Dan
pemandanganku hanya tertuju pada bukit di depanku. Entah bagaimana bisa ada
rumah-rumah yang berdiri tegak di atas bukit dan membuatku penasaran bagaimana
kalau aku bisa sampai ke atas sana.
Keinginanku
bertambah sejak SMA, pada saat guru Fisikaku, Bapak Ansori bercerita bahwa
beliau pernah mendaki Gunung Merapi (Padang) pada saat masa awal kuliahnya.
Beliau menceritakan bahwa bisa melihat kawah gunung dan letupan (apa ya namanya?)
di bawah kaki beliau #hehehe.. Apalagi bu guru Bahasa Indonesiaku yang
menceritakan keseruannya bersama anak- anak Pecinta Alam. Dan aku merasa
bersemangat sekali. Pada saat itu, aku berjanji ingin menjadi Pecinta Alam pada
saat aku kuliah nanti dan mendaki beberapa gunung di sana. Ketika aku
menceritakan keinginan pada ibuku, beliau cuma mendengarkan tanpa berkomentar
sama sekali. Ya, aku tahu pasti ibuku tidak akan mengizinkanku. Dan jawabannya
“Ya terserah”. Apalagi aku pernah iri kepada teman-teman KIR (Karya Ilmiah
Remaja) yang pernah mendaki G. Maras di perbatasan Belinyu. Rasanya aku pengen
ikut, tapi apa daya aku bukanlah anggota KIR … Hahahaha..
Entahlah,
ada rasa bahagia tersendiri yang menyusup ke dalam hati kalau mendengar yang
berbau-bau seperti itu #Ceilah bahasany… gak nahan… hahahaha
Namun, Alhamdulillah keinginanku pun
tercapai. Aku bisa menginjakkan kakiku di puncak G. Slamet (3432 mdpl). Aku
sudah menyiapkan persiapan yang matang jauh-jauh hari. Aku sudah searching ke
mbah google tentang segala hal yang berhubungan tentang pendakian G. Slamet, walaupun
belum ada persiapan fisik untuk melewatinya. Tapi aku merasa aku sudah cukup
kuat karena sering rajin jalan kaki.
Berangkat dari Semarang pukul 5 sore dan
sampai di Purwokerto jam 11 malam. Sampai disana kami menginap di basecamp
dekat rumah-rumah warga. Waktu datang kami langsung disuguhi secangkir teh
hangat dan disuruh makan nasi. Namun, sayang ternyata rahangku gak bisa membuka
setelah terjadi insiden waktu pulang ke Boyolali. Hal ini menjadikanku sulit makan, jadi aku
cuma makan beberapa suap saja. Dan selama pendakian aku cuma makan nasi sedikit
sekali kalau bisa dibilang cuma beberapa suap kecil dan harus pelan-pelan,
sementara yang lain bisa makan dengan lahapnya. Aku takut rahangku patah, kalau
aku paksa buat makan. Mungkin kesalahan engsel kali.
Pendakian di
mulai pada pagi hari dan jalannya menanjak sekali. Sayangnya aku ditempatkan
pada kelompok pertama bersama Kak Tio, Kak Din, Afri, William, Ondang, Ado,
Adeknya Ado, Giri, Barkah, Mbak April dan Aku. Padahal aku ingin sekali
ditempatkan di kelompok terakhir. Aku yang tidak mengenal cuaca di Gunung Selamet,
langsung saja memutuskan memakai pakaian beberapa lapis. Padahal menurut
prasangkaku, G. Slamet yang merupakan gunung tertinggi di Jawa Tengah pasti
udaranya dingin, seperti G.Sindoro dan G.Sumbing di Wonosobo yang dingin
sekali. Tapi dugaanku salah. Meskipun dingin, tapi pagi hari terasa panas
sekali. Aku sudah roboh sebelum sampai Pos 1. Rasanya aku ingin berhenti saja.
Namun untuk mencapai Pos 2 sudah memasuki pepohonan yang lebat dan aku mulai
bersemangat mendaki, karena hawanya cukup mendinginkan kelelahanku.
G. Slamet adalah
gunung yang tracknya sulit menurutku karena jalannya masih jalan hutan.
Tanahnya begitu licin dan gembur, dan tanjakannya tak kira-kira. Aku harus
berpegangan dengan dahan pohon, akar pohon dan apapun yang bisa aku jadikan
pijakan dan pegangan untuk bisa naik ke atas. Ada Mbak April yang menjadi
penyemangatku. Kalau Mbak April bisa kenapa aku nggak bisa. Meskipun aku dan
Mbah April sudah tertinggal satu langkah dari anak-anak cowok Kelompok
Pertamaku. Tapi, kami tetap mendaki sampai ke Pos 4 pada jam 12 – 1 siang.
Sampai di Pos 4 rasanya udara dingin sekali menusuk kulit dan aku berjemur di
terik matahari. Di Pos 4 ada beberapa pendaki lain yang berkumpul di sana. Ada
sebuah tempat peristirahatan sementara yang terbuat dari seng-seng yang disusun
dan bisa memuat 2 tenda di dalamnya. Di Pos 4, ternyata ada sebuah mata air dan
untuk mencapainya kita perlu turun ke bawah. Airnya jernih namun dingin sekali
seperti es. Dan kami menunggu sampai rombongan pendaki yang lain tiba di Pos 4.
Akhirnya kakak – kakak Archidipala (Arsitektur Pecinta Alam) memutuskan rombongan
bermalam di Pos 4 , setelah Pos 5 ramai dengan pendaki yang lain mendirikan
tenda. Kami pun mendirikan tenda dan makan malam, sebelum memutuskan tidur dan
bangun di pagi hari.
Malam begitu
gelap dan aku bisa melihat langit begitu bersihnya. Banyak bintang bertaburan,
sampai-sampai aku tidak bisa membedakan bintang satu dengan yang lainnya
seperti bermiliaran bintang yang menggantung di angkasa. Dan aku hanya bisa
bilang “Waw”. Subhanallah… Pantesan dulunya para ilmuwan bisa menemukan rasi
bintang diantara bermilyaran bintang.. Kereennnn… Andaikan aku punya teleskop
ya.. hahahai
Jam 2 pagi
rencananya rombongan mau mendaki sampai puncak di Pos terakhir, Pos 9. Karena
pendakian ini pendakian massal, maka sudah ada beberapa orang yang sudah
mendaki. Untungnya aku bisa bangun pada jam segitu, karena mendengar keramaian
diluar. Namun, aku ragu untuk keluar dari tendaku karena Mbak-Mbak Archidipala
yang lain masih tidur dengan nyenyak dan sepertinya mereka tidak mau mendaki
sampai puncak, apalagi Mbak April. Aku ragu, tapi aku tidak ingin melewatkan
kesempatan ini. Setelah pengorbanan uang dan tenaga jauh-jauh sampai sini, kan
sia-sia kalau tidak sampai puncak. Makanya aku memutuskan keluar dari tenda dan
membawa air seperlunya untuk sampai ke puncak.
Pagi
hari udara sangat dingin dan air minum terasa seperti es yang mengisi
kerongkonganku. Aku tak sanggup berjalan. Oksigen terasa begitu sedikit, dan
aku kesulitan bernapas. Aku lebih banyak berhenti dan napasku terengah-engah.
Namun dengan sedikit berhenti, aku memompa kembali tenagaku untuk berjalan
meski rasa dingin semakin terasa. Aku selalu berpikir kapan jalan ini akan
mencapai titik temu. Meskipun disuguhkan pemandangan yang luar biasa. Kerlap
kelip lampu kota dari jauh seperi butiran emas dan perak dari kejauhan. Tapi
perjalanan menuju puncak masih panjang.
Matahari
pun akhirnya semakin menampakan tubuhnya, tapi tetap saja udara dingin menusuk…
Kami melewati Pos 5 yang penuh dengan tenda –tenda para pendaki yang lain. Dan
Pos 5 disini seperti Pos 4 berupa tempat peristirahatan.. Kami menuju Pos
selanjutnya dan harus menerabas lebatnya hutan. Tapi vegetasi menuju puncak
semakin jarang. Sudah mulai didominasi oleh rumput liar dan bebatuan.. Dan
akhirnya aku menemukan bunga edelweiss, tumbuhan gunung yang cantik yang
biasanya ditulis di novel-novel. Bunga edelweiss ini bisa tumbuh di ketinggian
yang sangat tinggi dan cuma di gunung doang.. kereen ya. Tapi bunga ini gak
boleh dipetik, kalau dipetik ntar disuruh kembaliin lagi ketempat asalnya.
Mengerikan kalau disuruh naik gunung lagi..
Kami belum sampai di puncak (maksudnya
rombongan ku : Kak Rini, Kak Bachtiar, Kak Greta, sama anak FIB yang ikut
pendakian massal ini, dll) tapi matahari telah menampakkan dirinya. Aku baru
melihat matahari perlahan-lahan membuka tabir suryanya menerangi dunia seperti
yang ada di TV-TV itu.. Mengagumkan.. Makanya kebanyakan para pendaki naik
gunung, salah satunya tujuannya untuk melihat sunrise dan kebanyakan pendakian
dimulai di malam hari…
Ternyata
tak jauh memandang, puncak gunung sudah keliatan. Tapi tetap saja puncaknya
menjulang tinggi sekali.. Aku masih teringat perkataan Kak “Ican” yang katanya
“Sebentar lagi sampai, 10 menit lagi. Tapi nyata sampai sejam lebih. Ya itulah
Kak Ican yang selalu menyemangati aku dan Mbak April supaya jangan menyerah.
Ya,
seperti dugaanku, meskipun puncak telah ada di depan mata, tapi rasanya jauh
sekaaaaliii… Menuju puncak tepatnya Pos 8 atau Pos 9 yah?? Vegetasi disini
sudah sedikit sekali kebanyakan rumput liar, seperti ilalang putih yang sering
kutemukan di kebon ataupun rumpun bunga edelweiss. Dan udaranya tidak terkata.
Dinginnn banget.. Gak kebayang naik Mount Everest gimana dinginnya.. Andaikan
film “ VERTICAL LIMIT” beneran syuting di G.Everest salut banget dah… Apalagi
ada pesan yang disampaikan oleh ilm itu ( "Semua orang
akan mati, apa yang kita lakukan sebelum kita mati yang diperhitungkan".)
Apalagi Kak Aji yang cuma pakai
kaos doang,nggak kerasa dingin apa.. #hmm.. gak habis pikir
Dari atas sini aku melihat kaki gunung yang
hijau dan rumah-rumah penduduk yang kecilllllllll sekali.. Entah kenapa aku
jadi berpikir. bagaimanakah Tuhan yang di Atas sana melihat kita makhluk
ciptaan-Nya?. Pasti kita kecil sekali dihadapan-Nya… Makhluk hina seperti kita
seharusnya bersyukur.. Mungkin saja kita bisa saja dimusnahkan dalam sekejap.
Namun, Tuhan Yang Maha Agung masih memberikan karunia-Nya kepada kita supaya
kita banyak bersyukur dan selalu taat. Subhanaallah…
Awan-awan
bejejeran tampak berada dibawah aku berdiri. Apa yang akan terjadi jika aku
lompat kesana ya. Apakah akan seperti kisah Nobita dan Doraemon di negeri
Awan.. Hahaha #ngaco…
Aku
melihat lagi ke puncak. Jalan menuju puncak lebih ekstrim.. Bebatuan tampak meliputinya..
Aku harus merangkak, memanjat bebatuan. Dan hal ini tersulit karena mungkin
saja kita bisa tergelincir kalau tidak hati-hati. Entah bagaimana jadinya kalau
terpental ke bawah. Mengerikan sekali… Namun akhirnya aku menemukan solusinya,
kaki harus menapak di bebatuan yang paling kokoh dan besar dan jangan mengikuti
langkah orang didepan karena beresiko sekali. Kalau yang di depan tergelincir,
atau ada batu-batuan yang tersampar kan jatuhnya ke kita juga… Aku juga banyak
berhenti. Meskipun rasanya menyenangkan sekali. Tapi tetep aja capek, dingin
dan kehausan tentunya.. Tapi untungnya aku bawa air minum ke atas, 3 atau 4
botol 600ml. Dan akhirnya tasku di bawakan Kak Greta supaya gak kesusahan
manjat bebatuaan.
Dan
aku bertemu dengan anak-anak Purbalingga daerah sana yang ikut mendaki. Dan
cewek-cewek lagi. Salut banget, apalagi umurnya lebih muda dari aku. Dan
akhirnya setelah butuh waktu selama satu jam lebih dari Pos 8/9, akhirnya
sampai di Puncak juga dan sudah banyak pendaki lain..
Kakak2
Archidipala yang sudah sampai duluan, mereka sudah sedari tadi memasak minuman
hangat dengan memakai …. Dan paraffin. Aku langsung aja duduk kelelahan. Capek
banget.. dan udaranya dingin sekalii…. Udaranya disini lebih kencang.. dan aku
hanya beristirahat sampai tenagaku penuh lagi. Kebanyakan orang pasti langsung
mengabadikan momennya ketika sampai di puncak gunung. Dan aku cuma melihat
mereka saja. Untungnya aku bawa handphone Nokia ku yang tahan banting. Biarpun
kameranya jelek dan VGA doang, tapi aku tetap memotret keadaan G. Slamet ini.
Biarpun ntar gak ada yang liat maupun gak ada yang mau lihat, karena gambarnya
buram #hahaha. Tapi aku akan tetap senang. Karena pendakian ini bukan
kesenangan dari yang terlihat tapi juga dari batinku.
Kami
berada di atas gunung sebelum pukul 9, karena aktivitas gunung sudah mulai
aktif. Maksudku gunung udah mulai mengeluarkan gas-gas berbahayanya. Jadi gak
baik buat kesehatan… Aku di puncak sampai pukul 8 kurang.. Sekelompok anak dari
rombongan pertamaku turun ke bawah… untuk melihat kawah G. Slamet. Akupun
penasaran untuk melihat juga.. Karena ini mungkin cuma sekali kesempatanku
untuk melihat kawahnya lagi. Gunung Slamet memang gunung semi aktif, tapi bukan
seperti gunung G.Merapi dan konco-konconya. Untuk melihat kawah, perlu turun
kebawah. Sesampainya disana aku bisa melihat kawah yang menganga, mungkin
seperti itulah yang diceritakan Pak Ansori dulu. Tapi ternyata ada beberapa
pendaki lain yang benar-benar turun ke kawah, dari atas juga aku bisa melihat
batu-batuan kecil yang disusun membentuk tulisan dan bentuk yang mengungkapkan
perasaan para pendaki yang pernah ke sini. Tulisan dan bentuknya sangat besar
sekali.. entah perlu beberapa orang untuk menyusunnya. Dan tulisan-tulisan itu
akan terlihat setiap orang melihat kawah G. Slamet dari jauh..
Dan
akhirnya setelah puas sampai di puncak gunung saatnya kembali ke basecamp dan
menunggu waktu pulang. Perjalanan ini menyenangkan untukku, tapi aku memilih
banyak diam dengan yang lain karena aku tak kenal sama mereka sama sekali.
Parah sekali.
Namun di setiap
kebahagiaan selalu aja ada kesedihan juga. Perjalanan ini di lain sisi ada sisi
baik dan buruknya. Kabar burukku datang setelah aku turun dari puncak. Mungkin
karena aku kurang hati-hati atau terlalu sombong setelah sampai di puncak. Aku
akhirnya tergelincir waktu turun (bukan pas di bebatuannya ya!!). Aku
tergelincir waktu di jalan menuju Pos 4, Entahlah apa yang akan terjadi kalau
aku jatuh ke jurang. Alhamdulillah Allah masih menolongku.
Dan akibat dari
itu, kedua lututku dibawa jalan sakit sekali. Lututku rasanya sudah lemas
sekali. Apalagi turun gunung adalah hal yang paling menyenangkan untuk para
pendaki karena lebih mudah daripada naik gunung. Bayangkan aja naik gunung
Slamet bisa sampai 1-2 jam untuk sampai ke setiap Posnya. Turunya bisa sampai
setengah waktunya. Bagiku itu terasa sulit sekali. Tidak bagi mereka yang tidak
mengalami apa-apa. Aku masih bisa menahannya sampai Pos 1. Tapi kesakitanku
sudah naik sampai ubun-ubun.. Teman-teman pendaki yang lain turun dengan
berlari dan aku juga harus melakukan hal yang sama supaya nggak ketinggalan
meski dengan tempo yang lebih lambat. Dan akhirnya perjalanan untuk sampai ke
basecamp aku awali dengan tangisan. Karena nggak bisa nahan rasa sakit lagi. Ya,
itulah kisahku.
Seperti halnya
waktu saat naik G.Ungaran, awal masuk kuliah juga terdapat hal yang sama, aku
kurang mempersiapkan staminaku. Aq cuma makan sekali sebelum naik gunung. Dan
akhirnya badanku gak enak. Aku muntah-muntah selama pendakian dan untungnya
nggak ada teman-temanku yang melihat. Biarpun dikasih makan oleh panitia, juga
akhirnya dikeluarkan oleh tubuhku juga. Tapi Alhamdulillah, Allah menolongku
lagi. Biarpun rasanya gak kuat untuk nyampai di puncak G.Ungaran, aku masih diberi
kekuatan untuk tetap mendaki sampai puncak. Meski akhirnya setelah selesai naik
gunung, aku sakit perut sampai beberapa hari.. menyebalkan sekali rasanya
hahaha
Sebelum mendaki
ada cerita lucu antara aku dan ibuku. Sebelum memutuskan untuk mendaki, aku
memang sudah memberitahu ibuku kalau aku punya rencana buat naik gunung tapi
tidak tahu bakalan terlaksana #rencananya buat mancing dulu sih.. Hahaha. Ya
tentunya, respon ibuku pasti tidak mengizinkan. Tapi, akhirnya aku tetap nekat
pergi, yang penting aku sudah kasih tahu. Pada saat H-beberapa jam sebelum
berangkat aku ditelpon ibuku untuk mencari buku-buku Statistika di perpustakan,
karena mengira aku tidak berangkat. Tapi kemudian, aku memberitahu ibuku bahwa
sebentar lagi aku akan berangkat buat naik gunung. Jawaban ibuku pada saat itu cuma
satu, “Astagfirullah!!” dan langsung menutup telepon. Aku pun kemudian cuma
tertawa saja. Hahaha.. Aku tahu alasan ibuku, karena kegiatan seperti itu
terkesan berfoya-foya (bersenang-senang) dan tidak ada manfaatnya. Tapi,
tujuanku adalah untuk tafakur alam, mensyukuri nikmat Sang Pencipta bahwa kita
bukanlah apa-apa di hadapannya.
Banyak hal yang
di dapat setelah sampai di puncak. Setelah banyak pengorbanan dari uang,
tenaga, kepercayaan diri/mental, segala upaya untuk menjaga tubuh dari dingin,
untuk tetap bernapas di tengah kedinginan malam, menahan dari kelaparan,
mencegah dari dehidrasi, dan memompa semangat diri untuk bisa menapak sampai
langkah terakhir, dan yang terpenting tak perlu tergesa-gesa yang penting selamat.
Aku yakin bukan
hanya pemandangan yang luar biasa saja yang disuguhkan di atas sana. Tapi hal yang lebih ku syukuri adalah aku diizinkan
dan diberi kesempatan untuk bisa mewujudkan apa yang ku inginkan sejak dulu dan
tentunya mensyukuri nikmat Tuhan yang terkira selama ini. Karena sebetulnya
kita ini sangatlah kecil di hadapan-Nya. Apalah daya kita tanpa Kuasa Yang Maha
Menciptakan. Andaikan setelah kau sampai di puncak gunung. Lihatlah pemandangan
yang terhampar di depan matamu. Betapa indahnya itu. Pernahkah terpikirkan
sedikit di pikiranmu. Bagaimana Tuhan bisa menciptakan sedetail itu, sekecil
itu, seakurat mungkin. Dan lihatlah langit diatasmu. Entah langit itu akan
berujung kemana. Langit itu menembus lapisan bumi dan akhirnya melewati
bermilyaran-milyaran kehidupan angkasa di luar sana. Betapa besarnya. Entahlah,
apa arti hidup kita di hadapan Yang Maha Kuasa? Betapa kecil dan hinanya kita.
Dan banyak hal yang tak bisa tersampaikan oleh kata-kata.
Mungkin
ada beberapa orang yang naik gunung karena kata-kata Soe Hok Gie, seorang
aktivis mahasiswa yang meninggal di puncak Gunung Semeru (wajib baca
biografinya/catatan diarinya, tapi terlalu politik) atau gara-gara nonton 5 CM. Kalau aku malahan
gak pernah tau sama sekali, dan baru tahu setelah naik gunung. Karena aku naik
gunung karena keinginanku sendiri tanpa ada hal yang mendorong untuk
melakukannya. Meski pada akhirnya, aku kapok naik gunung bukan berarti aku
membencinya. Buktinya, setiap ada informasi tentang pendakian gunung, hatiku
selalu berbunga-bunga kayak orang jatuh cinta. Sampai-sampai temanku pernah
berkata, “Jatuh cinta kok sama gunung, jatuh cinta sama manusia lah” hahaha Aku
hanya kapok mendakinya saja karena capek dan perlu banyak usaha, tapi setelah
sampai di puncak, pasti kepikiran kira-kira gunung mana lagi yang mau ku daki.
Hahaha..
Sekian dariku.
(Dari kiri ke kanan : Adeknya
Ado, Afri, Ondang, Ado, Willy, Aku dan Kak Aji “Archidipala” )
(Ondang, Ado dan Aku tentunya)
Pemandangannya gak kalah seru
dengan yang ada di 5 CM… Cantik sekali
Bunga edelweiss yang mempesona..
Dulu waktu kelas 2 SMP, aku pernah ngasih nama adik tokoh utama di novelku “A
Star of Spring” karena terkesan oleh bunga edelweiss, namanya Edeline
Graceina,,, nyambuung dikit la… hahaha