0

Tugas PA1ku











Dan akhirnya menjadi ....




0

Memoriku, Berkebun

Sebenarnya ini postingan yang pernah di share ditahun 2012,,, hahaha

Sudah hampir satu tahun lebih, aku dan ibuku tidak ke kebun. Mungkin tahun-tahun selanjutnya, aku takkan bisa melakukan kegiatan itu lagi. Apalagi sejak ibuku pindah kerja ke provinsi dan aku sekarang memasuki bangku kuliah. Mungkin kami takkan sempat lagi meluangkan waktu bersama untuk berkebun. Semua itu adalah kegiatan yang menyenangkan? Menyenangkan menurutku.

Biasanya kami akan ke kebon (kebun, kalau diindonesiakan) sore-sore, kira-kira ba’da shalat ashar. Berbekal air minum, parang dan arit, kami akan ke kebon dengan sepeda motor, perjalanan ditempuh selama 30 menit dengan kecepatan sedang.. Hari-hari seperti itu adalah hari-hari yang berharga untukku. Sebelum sampai, aku selalu merasakan angin yang menyapa. Rasanya segar sekali.. Angin rasanya menampar-nampar mukaku dan  mengelitik kulitku *lebay.. Perjalanan melewati rumah-rumah yang terdapat di sepanjang jalan seperti melihat kembali film-film tempo dulu yang diputar cepat.. Di sepanjang perjalanan, aku selalu menguatkan mimpi-mimpiku dan selalu berkata, “jangan patah semangat”. Hahahaha…

Sebenarnya kebun kami ada dua di daerah Pemali, tapi yang lebih menyenangkan adalah setelah melewati tempat sapi-sapi yang dipelihara.  Daerah itu terdapat  perkebunan sawit, karet dan semak-semak belukar yang memenuhi tanah kavling yang tidak diurus. Kebanyakan tanah kavling tersebut sudah di punyai orang. Salah satunya punya ibuku, yang punya satu kavling tanah. Awal pertama ke sana, semak-semak belukar banyak sekali memenuhi tanah kavling milik kami. Tanah disana seperti tanah gambut, tapi subur sekali. Tanah kavling tersebut kami  jadikan tempat bercocok tanam, yang di dalam bahasa kami ‘kebon’ /kebun.

Melihat ibuku mencangkul, aku tertarik mencobanya dan entah kenapa selalu ketagihan kalau dikebon itu. Lama kelamaan kebon yang awalnya penuh semak belukar , akhirnya bersih dan mulai kami tanami pisang , ubi/ ketela pohon, ubi ungu/ bijur, ada juga jambu bol, kelengkeng, duren, yang entah sekarang udah tinggi atau masih pendek seperti awal di tanam. Secara ibuku orang pertanian, jadi di depan rumah juga ada kebun kecil yang nanam mangga, kelengkeng, ubi, papaya, pisang, rambutan, yang tingginya udah ada yang nyampe 3 meter atau lebih..

Yang membuatku tertarik kebon adalah pengen nyangkul dan membersihkan rumput-rumput penggangu. Apalagi kalau peluh udah keluar, berasa nikmat.. Akhir dari perjuangan.. Hahahaha…
Setelah selesai nyangkul, bIasanya kami akan disuguhkan secangkir kopi panas yang manis sekali oleh ibu yang rumahnya dekat dengan kebon kami.. Waktu-waktu seperti itu pasti udah sore, kitaran jam 5 sore. Ibuku dan ibu tersebut pasti ngobrol ngalor-ngidul. Sedangkan aku keluyuran meniti semak-semak belukar hanya untuk nyari buah kramunting, buah yang bewarna hitam kemerahtuaan kalau masak, kadang dapat kadang tidak. Aku juga “nemu” (menemukan) yang katanya bonsai Bangka, dan pernah loh nemu “ketuyut “ nama lain kantong semar,  entah kantong semarnya yang nyasar atau dibuang sama orang. Yang paling menyenangkan adalah mencari tanaman yang mirip dandelion brush. Aku kumpulkan dan selama perjalanan pulang, pasti akan terbawa angin dan indah sekali.

Sebelum pulang, kami akan memberikan makanan kecil sebagai tanda terima kasih atas dua cangkir kopi yang disuguhkan.. Kalau pulang, peluh yang keluar pasti langsung terhapus oleh angin. Rasanya yang tadinya panas, langsung menjadi dingin, seperti rasanya permen mint. Segar sekali.. Kami pulang pasti akan beranjak sore dan mendekati magrib, matahari semburat jingga terlihat di sela-sela pepohonan yang tampak bergerak cepat. Sementara itu, langit rasanya luas sekali. Biru tanpa awan.. seperti samudra dan ingin berenang di dalamnya… Yihuy, apa nggak tenggelam??. Warna langit kan lebih dalam daripada laut… Hihihi .Apalagi selama perjalanan, aku selalu nyanyi asal-asalan sebagai hiburan.. *lebay mode on


Dan hari itu pasti rasanyamenyenangkan, meski telapak-telapak tanganku rasanya pegal. Tapi tetaplah itu akan menjadi kenangan terindah antara ibuku dan aku..

dua buah foto dibawah ini pada waktu sampai dikebon dan sore harinya. Paling enak tuh liat langit luas sejauh mata memandang.. :)



Dan dibawah ini beberapa tananman di kebon yang aku potret, rata-rata tanaman liar # Ya. iyalah... hahaha

Ini tanaman buah keramunting yang dapat dimakan buahnya.Nama buah aslinya keraduduk (Ochthocharis bornensis BI)





0

Pendakian Pertamaku

Pendakian pertamaku adalah ke Gunung Slamet (3432 mdpl) pada tanggal 6 – 8 Juni 2013. Mungkin bagi sebagian orang beranggapan untuk apa capek-capek naik gunung, apalagi untuk perempuan. Namun bagiku tidak. Itu adalah suatu tantangan sendiri bagiku. Meskipun akhirnya, kapok naik gunung lagi. Hahaha…

           Aku menyukai alam, tak terkecuali gunung. Dan apalagi aku pernah bercerita bahwa aku menyukai luar angkasa dan itu pasti berhubungan dengan ketinggian. Sudah sejak lama, sejak kelas 5 SD aku mengikuti kegiatan Pramuka yang berumur singkat. Saat itu ada kegiatan jalan – jalan. Kami menaiki sebuah bukit dengan batu-batu besar dekat Kantor PDAM.

Sebenarnya bukan bukit, tapi gundukan tanah yang tinggi, yang disekitarnya masih rapat belantara pepohonan, meskipun bau kemenyan tercium selama menaikinya. Ketika aku sampai di atas, aku melihat bukit-bukit yang mengungkung kotaku. Dan rasanya senang berada di atas sana. Sejuk, dan luas. Aku bisa melihat pemandangan di sekitarku. Dan pemandanganku hanya tertuju pada bukit di depanku. Entah bagaimana bisa ada rumah-rumah yang berdiri tegak di atas bukit dan membuatku penasaran bagaimana kalau aku bisa sampai ke atas sana.

                Keinginanku bertambah sejak SMA, pada saat guru Fisikaku, Bapak Ansori bercerita bahwa beliau pernah mendaki Gunung Merapi (Padang) pada saat masa awal kuliahnya. Beliau menceritakan bahwa bisa melihat kawah gunung dan letupan (apa ya namanya?) di bawah kaki beliau #hehehe.. Apalagi bu guru Bahasa Indonesiaku yang menceritakan keseruannya bersama anak- anak Pecinta Alam. Dan aku merasa bersemangat sekali. Pada saat itu, aku berjanji ingin menjadi Pecinta Alam pada saat aku kuliah nanti dan mendaki beberapa gunung di sana. Ketika aku menceritakan keinginan pada ibuku, beliau cuma mendengarkan tanpa berkomentar sama sekali. Ya, aku tahu pasti ibuku tidak akan mengizinkanku. Dan jawabannya “Ya terserah”. Apalagi aku pernah iri kepada teman-teman KIR (Karya Ilmiah Remaja) yang pernah mendaki G. Maras di perbatasan Belinyu. Rasanya aku pengen ikut, tapi apa daya aku bukanlah anggota KIR … Hahahaha..

                Entahlah, ada rasa bahagia tersendiri yang menyusup ke dalam hati kalau mendengar yang berbau-bau seperti itu #Ceilah bahasany… gak nahan… hahahaha

                  Namun, Alhamdulillah keinginanku pun tercapai. Aku bisa menginjakkan kakiku di puncak G. Slamet (3432 mdpl). Aku sudah menyiapkan persiapan yang matang jauh-jauh hari. Aku sudah searching ke mbah google tentang segala hal yang berhubungan tentang pendakian G. Slamet, walaupun belum ada persiapan fisik untuk melewatinya. Tapi aku merasa aku sudah cukup kuat karena sering rajin jalan kaki.
 Berangkat dari Semarang pukul 5 sore dan sampai di Purwokerto jam 11 malam. Sampai disana kami menginap di basecamp dekat rumah-rumah warga. Waktu datang kami langsung disuguhi secangkir teh hangat dan disuruh makan nasi. Namun, sayang ternyata rahangku gak bisa membuka setelah terjadi insiden waktu pulang ke Boyolali.  Hal ini menjadikanku sulit makan, jadi aku cuma makan beberapa suap saja. Dan selama pendakian aku cuma makan nasi sedikit sekali kalau bisa dibilang cuma beberapa suap kecil dan harus pelan-pelan, sementara yang lain bisa makan dengan lahapnya. Aku takut rahangku patah, kalau aku paksa buat makan. Mungkin kesalahan engsel kali.

Pendakian di mulai pada pagi hari dan jalannya menanjak sekali. Sayangnya aku ditempatkan pada kelompok pertama bersama Kak Tio, Kak Din, Afri, William, Ondang, Ado, Adeknya Ado, Giri, Barkah, Mbak April dan Aku. Padahal aku ingin sekali ditempatkan di kelompok terakhir. Aku yang tidak mengenal cuaca di Gunung Selamet, langsung saja memutuskan memakai pakaian beberapa lapis. Padahal menurut prasangkaku, G. Slamet yang merupakan gunung tertinggi di Jawa Tengah pasti udaranya dingin, seperti G.Sindoro dan G.Sumbing di Wonosobo yang dingin sekali. Tapi dugaanku salah. Meskipun dingin, tapi pagi hari terasa panas sekali. Aku sudah roboh sebelum sampai Pos 1. Rasanya aku ingin berhenti saja. Namun untuk mencapai Pos 2 sudah memasuki pepohonan yang lebat dan aku mulai bersemangat mendaki, karena hawanya cukup mendinginkan kelelahanku.

G. Slamet adalah gunung yang tracknya sulit menurutku karena jalannya masih jalan hutan. Tanahnya begitu licin dan gembur, dan tanjakannya tak kira-kira. Aku harus berpegangan dengan dahan pohon, akar pohon dan apapun yang bisa aku jadikan pijakan dan pegangan untuk bisa naik ke atas. Ada Mbak April yang menjadi penyemangatku. Kalau Mbak April bisa kenapa aku nggak bisa. Meskipun aku dan Mbah April sudah tertinggal satu langkah dari anak-anak cowok Kelompok Pertamaku. Tapi, kami tetap mendaki sampai ke Pos 4 pada jam 12 – 1 siang. Sampai di Pos 4 rasanya udara dingin sekali menusuk kulit dan aku berjemur di terik matahari. Di Pos 4 ada beberapa pendaki lain yang berkumpul di sana. Ada sebuah tempat peristirahatan sementara yang terbuat dari seng-seng yang disusun dan bisa memuat 2 tenda di dalamnya. Di Pos 4, ternyata ada sebuah mata air dan untuk mencapainya kita perlu turun ke bawah. Airnya jernih namun dingin sekali seperti es. Dan kami menunggu sampai rombongan pendaki yang lain tiba di Pos 4. Akhirnya kakak – kakak Archidipala (Arsitektur Pecinta Alam) memutuskan rombongan bermalam di Pos 4 , setelah Pos 5 ramai dengan pendaki yang lain mendirikan tenda. Kami pun mendirikan tenda dan makan malam, sebelum memutuskan tidur dan bangun di pagi hari.

Malam begitu gelap dan aku bisa melihat langit begitu bersihnya. Banyak bintang bertaburan, sampai-sampai aku tidak bisa membedakan bintang satu dengan yang lainnya seperti bermiliaran bintang yang menggantung di angkasa. Dan aku hanya bisa bilang “Waw”. Subhanallah… Pantesan dulunya para ilmuwan bisa menemukan rasi bintang diantara bermilyaran bintang.. Kereennnn… Andaikan aku punya teleskop ya.. hahahai

Jam 2 pagi rencananya rombongan mau mendaki sampai puncak di Pos terakhir, Pos 9. Karena pendakian ini pendakian massal, maka sudah ada beberapa orang yang sudah mendaki. Untungnya aku bisa bangun pada jam segitu, karena mendengar keramaian diluar. Namun, aku ragu untuk keluar dari tendaku karena Mbak-Mbak Archidipala yang lain masih tidur dengan nyenyak dan sepertinya mereka tidak mau mendaki sampai puncak, apalagi Mbak April. Aku ragu, tapi aku tidak ingin melewatkan kesempatan ini. Setelah pengorbanan uang dan tenaga jauh-jauh sampai sini, kan sia-sia kalau tidak sampai puncak. Makanya aku memutuskan keluar dari tenda dan membawa air seperlunya untuk sampai ke puncak.   

                Pagi hari udara sangat dingin dan air minum terasa seperti es yang mengisi kerongkonganku. Aku tak sanggup berjalan. Oksigen terasa begitu sedikit, dan aku kesulitan bernapas. Aku lebih banyak berhenti dan napasku terengah-engah. Namun dengan sedikit berhenti, aku memompa kembali tenagaku untuk berjalan meski rasa dingin semakin terasa. Aku selalu berpikir kapan jalan ini akan mencapai titik temu. Meskipun disuguhkan pemandangan yang luar biasa. Kerlap kelip lampu kota dari jauh seperi butiran emas dan perak dari kejauhan. Tapi perjalanan menuju puncak masih panjang.

                Matahari pun akhirnya semakin menampakan tubuhnya, tapi tetap saja udara dingin menusuk… Kami melewati Pos 5 yang penuh dengan tenda –tenda para pendaki yang lain. Dan Pos 5 disini seperti Pos 4 berupa tempat peristirahatan.. Kami menuju Pos selanjutnya dan harus menerabas lebatnya hutan. Tapi vegetasi menuju puncak semakin jarang. Sudah mulai didominasi oleh rumput liar dan bebatuan.. Dan akhirnya aku menemukan bunga edelweiss, tumbuhan gunung yang cantik yang biasanya ditulis di novel-novel. Bunga edelweiss ini bisa tumbuh di ketinggian yang sangat tinggi dan cuma di gunung doang.. kereen ya. Tapi bunga ini gak boleh dipetik, kalau dipetik ntar disuruh kembaliin lagi ketempat asalnya. Mengerikan kalau disuruh naik gunung lagi..

                  Kami belum sampai di puncak (maksudnya rombongan ku : Kak Rini, Kak Bachtiar, Kak Greta, sama anak FIB yang ikut pendakian massal ini, dll) tapi matahari telah menampakkan dirinya. Aku baru melihat matahari perlahan-lahan membuka tabir suryanya menerangi dunia seperti yang ada di TV-TV itu.. Mengagumkan.. Makanya kebanyakan para pendaki naik gunung, salah satunya tujuannya untuk melihat sunrise dan kebanyakan pendakian dimulai di malam hari…
                Ternyata tak jauh memandang, puncak gunung sudah keliatan. Tapi tetap saja puncaknya menjulang tinggi sekali.. Aku masih teringat perkataan Kak “Ican” yang katanya “Sebentar lagi sampai, 10 menit lagi. Tapi nyata sampai sejam lebih. Ya itulah Kak Ican yang selalu menyemangati aku dan Mbak April supaya jangan menyerah.

                Ya, seperti dugaanku, meskipun puncak telah ada di depan mata, tapi rasanya jauh sekaaaaliii… Menuju puncak tepatnya Pos 8 atau Pos 9 yah?? Vegetasi disini sudah sedikit sekali kebanyakan rumput liar, seperti ilalang putih yang sering kutemukan di kebon ataupun rumpun bunga edelweiss. Dan udaranya tidak terkata. Dinginnn banget.. Gak kebayang naik Mount Everest gimana dinginnya.. Andaikan film “ VERTICAL LIMIT” beneran syuting di G.Everest salut banget dah… Apalagi ada pesan yang disampaikan oleh ilm itu ( "Semua orang akan mati, apa yang kita lakukan sebelum kita mati yang diperhitungkan".)
Apalagi Kak Aji yang cuma pakai kaos doang,nggak kerasa dingin apa.. #hmm.. gak habis pikir

 Dari atas sini aku melihat kaki gunung yang hijau dan rumah-rumah penduduk yang kecilllllllll sekali.. Entah kenapa aku jadi berpikir. bagaimanakah Tuhan yang di Atas sana melihat kita makhluk ciptaan-Nya?. Pasti kita kecil sekali dihadapan-Nya… Makhluk hina seperti kita seharusnya bersyukur.. Mungkin saja kita bisa saja dimusnahkan dalam sekejap. Namun, Tuhan Yang Maha Agung masih memberikan karunia-Nya kepada kita supaya kita banyak bersyukur dan selalu taat. Subhanaallah…
                Awan-awan bejejeran tampak berada dibawah aku berdiri. Apa yang akan terjadi jika aku lompat kesana ya. Apakah akan seperti kisah Nobita dan Doraemon di negeri Awan.. Hahaha #ngaco…

                Aku melihat lagi ke puncak. Jalan menuju puncak lebih ekstrim.. Bebatuan tampak meliputinya.. Aku harus merangkak, memanjat bebatuan. Dan hal ini tersulit karena mungkin saja kita bisa tergelincir kalau tidak hati-hati. Entah bagaimana jadinya kalau terpental ke bawah. Mengerikan sekali… Namun akhirnya aku menemukan solusinya, kaki harus menapak di bebatuan yang paling kokoh dan besar dan jangan mengikuti langkah orang didepan karena beresiko sekali. Kalau yang di depan tergelincir, atau ada batu-batuan yang tersampar kan jatuhnya ke kita juga… Aku juga banyak berhenti. Meskipun rasanya menyenangkan sekali. Tapi tetep aja capek, dingin dan kehausan tentunya.. Tapi untungnya aku bawa air minum ke atas, 3 atau 4 botol 600ml. Dan akhirnya tasku di bawakan Kak Greta supaya gak kesusahan manjat bebatuaan.

                Dan aku bertemu dengan anak-anak Purbalingga daerah sana yang ikut mendaki. Dan cewek-cewek lagi. Salut banget, apalagi umurnya lebih muda dari aku. Dan akhirnya setelah butuh waktu selama satu jam lebih dari Pos 8/9, akhirnya sampai di Puncak juga dan sudah banyak pendaki lain..

                Kakak2 Archidipala yang sudah sampai duluan, mereka sudah sedari tadi memasak minuman hangat dengan memakai …. Dan paraffin. Aku langsung aja duduk kelelahan. Capek banget.. dan udaranya dingin sekalii…. Udaranya disini lebih kencang.. dan aku hanya beristirahat sampai tenagaku penuh lagi. Kebanyakan orang pasti langsung mengabadikan momennya ketika sampai di puncak gunung. Dan aku cuma melihat mereka saja. Untungnya aku bawa handphone Nokia ku yang tahan banting. Biarpun kameranya jelek dan VGA doang, tapi aku tetap memotret keadaan G. Slamet ini. Biarpun ntar gak ada yang liat maupun gak ada yang mau lihat, karena gambarnya buram #hahaha. Tapi aku akan tetap senang. Karena pendakian ini bukan kesenangan dari yang terlihat tapi juga dari batinku.

                Kami berada di atas gunung sebelum pukul 9, karena aktivitas gunung sudah mulai aktif. Maksudku gunung udah mulai mengeluarkan gas-gas berbahayanya. Jadi gak baik buat kesehatan… Aku di puncak sampai pukul 8 kurang.. Sekelompok anak dari rombongan pertamaku turun ke bawah… untuk melihat kawah G. Slamet. Akupun penasaran untuk melihat juga.. Karena ini mungkin cuma sekali kesempatanku untuk melihat kawahnya lagi. Gunung Slamet memang gunung semi aktif, tapi bukan seperti gunung G.Merapi dan konco-konconya. Untuk melihat kawah, perlu turun kebawah. Sesampainya disana aku bisa melihat kawah yang menganga, mungkin seperti itulah yang diceritakan Pak Ansori dulu. Tapi ternyata ada beberapa pendaki lain yang benar-benar turun ke kawah, dari atas juga aku bisa melihat batu-batuan kecil yang disusun membentuk tulisan dan bentuk yang mengungkapkan perasaan para pendaki yang pernah ke sini. Tulisan dan bentuknya sangat besar sekali.. entah perlu beberapa orang untuk menyusunnya. Dan tulisan-tulisan itu akan terlihat setiap orang melihat kawah G. Slamet dari jauh..

                Dan akhirnya setelah puas sampai di puncak gunung saatnya kembali ke basecamp dan menunggu waktu pulang. Perjalanan ini menyenangkan untukku, tapi aku memilih banyak diam dengan yang lain karena aku tak kenal sama mereka sama sekali. Parah sekali.
Namun di setiap kebahagiaan selalu aja ada kesedihan juga. Perjalanan ini di lain sisi ada sisi baik dan buruknya. Kabar burukku datang setelah aku turun dari puncak. Mungkin karena aku kurang hati-hati atau terlalu sombong setelah sampai di puncak. Aku akhirnya tergelincir waktu turun (bukan pas di bebatuannya ya!!). Aku tergelincir waktu di jalan menuju Pos 4, Entahlah apa yang akan terjadi kalau aku jatuh ke jurang. Alhamdulillah Allah masih menolongku.

Dan akibat dari itu, kedua lututku dibawa jalan sakit sekali. Lututku rasanya sudah lemas sekali. Apalagi turun gunung adalah hal yang paling menyenangkan untuk para pendaki karena lebih mudah daripada naik gunung. Bayangkan aja naik gunung Slamet bisa sampai 1-2 jam untuk sampai ke setiap Posnya. Turunya bisa sampai setengah waktunya. Bagiku itu terasa sulit sekali. Tidak bagi mereka yang tidak mengalami apa-apa. Aku masih bisa menahannya sampai Pos 1. Tapi kesakitanku sudah naik sampai ubun-ubun.. Teman-teman pendaki yang lain turun dengan berlari dan aku juga harus melakukan hal yang sama supaya nggak ketinggalan meski dengan tempo yang lebih lambat. Dan akhirnya perjalanan untuk sampai ke basecamp aku awali dengan tangisan. Karena nggak bisa nahan rasa sakit lagi. Ya, itulah kisahku.

Seperti halnya waktu saat naik G.Ungaran, awal masuk kuliah juga terdapat hal yang sama, aku kurang mempersiapkan staminaku. Aq cuma makan sekali sebelum naik gunung. Dan akhirnya badanku gak enak. Aku muntah-muntah selama pendakian dan untungnya nggak ada teman-temanku yang melihat. Biarpun dikasih makan oleh panitia, juga akhirnya dikeluarkan oleh tubuhku juga. Tapi Alhamdulillah, Allah menolongku lagi. Biarpun rasanya gak kuat untuk nyampai di puncak G.Ungaran, aku masih diberi kekuatan untuk tetap mendaki sampai puncak. Meski akhirnya setelah selesai naik gunung, aku sakit perut sampai beberapa hari.. menyebalkan sekali rasanya hahaha

Sebelum mendaki ada cerita lucu antara aku dan ibuku. Sebelum memutuskan untuk mendaki, aku memang sudah memberitahu ibuku kalau aku punya rencana buat naik gunung tapi tidak tahu bakalan terlaksana #rencananya buat mancing dulu sih.. Hahaha. Ya tentunya, respon ibuku pasti tidak mengizinkan. Tapi, akhirnya aku tetap nekat pergi, yang penting aku sudah kasih tahu. Pada saat H-beberapa jam sebelum berangkat aku ditelpon ibuku untuk mencari buku-buku Statistika di perpustakan, karena mengira aku tidak berangkat. Tapi kemudian, aku memberitahu ibuku bahwa sebentar lagi aku akan berangkat buat naik gunung. Jawaban ibuku pada saat itu cuma satu, “Astagfirullah!!” dan langsung menutup telepon. Aku pun kemudian cuma tertawa saja. Hahaha.. Aku tahu alasan ibuku, karena kegiatan seperti itu terkesan berfoya-foya (bersenang-senang) dan tidak ada manfaatnya. Tapi, tujuanku adalah untuk tafakur alam, mensyukuri nikmat Sang Pencipta bahwa kita bukanlah apa-apa di hadapannya.

Banyak hal yang di dapat setelah sampai di puncak. Setelah banyak pengorbanan dari uang, tenaga, kepercayaan diri/mental, segala upaya untuk menjaga tubuh dari dingin, untuk tetap bernapas di tengah kedinginan malam, menahan dari kelaparan, mencegah dari dehidrasi, dan memompa semangat diri untuk bisa menapak sampai langkah terakhir, dan yang terpenting tak perlu tergesa-gesa yang penting selamat.

Aku yakin bukan hanya pemandangan yang luar biasa saja yang disuguhkan di atas sana. Tapi  hal yang lebih ku syukuri adalah aku diizinkan dan diberi kesempatan untuk bisa mewujudkan apa yang ku inginkan sejak dulu dan tentunya mensyukuri nikmat Tuhan yang terkira selama ini. Karena sebetulnya kita ini sangatlah kecil di hadapan-Nya. Apalah daya kita tanpa Kuasa Yang Maha Menciptakan. Andaikan setelah kau sampai di puncak gunung. Lihatlah pemandangan yang terhampar di depan matamu. Betapa indahnya itu. Pernahkah terpikirkan sedikit di pikiranmu. Bagaimana Tuhan bisa menciptakan sedetail itu, sekecil itu, seakurat mungkin. Dan lihatlah langit diatasmu. Entah langit itu akan berujung kemana. Langit itu menembus lapisan bumi dan akhirnya melewati bermilyaran-milyaran kehidupan angkasa di luar sana. Betapa besarnya. Entahlah, apa arti hidup kita di hadapan Yang Maha Kuasa? Betapa kecil dan hinanya kita. Dan banyak hal yang tak bisa tersampaikan oleh kata-kata.

                Mungkin ada beberapa orang yang naik gunung karena kata-kata Soe Hok Gie, seorang aktivis mahasiswa yang meninggal di puncak Gunung Semeru (wajib baca biografinya/catatan diarinya, tapi terlalu politik)  atau gara-gara nonton 5 CM. Kalau aku malahan gak pernah tau sama sekali, dan baru tahu setelah naik gunung. Karena aku naik gunung karena keinginanku sendiri tanpa ada hal yang mendorong untuk melakukannya. Meski pada akhirnya, aku kapok naik gunung bukan berarti aku membencinya. Buktinya, setiap ada informasi tentang pendakian gunung, hatiku selalu berbunga-bunga kayak orang jatuh cinta. Sampai-sampai temanku pernah berkata, “Jatuh cinta kok sama gunung, jatuh cinta sama manusia lah” hahaha Aku hanya kapok mendakinya saja karena capek dan perlu banyak usaha, tapi setelah sampai di puncak, pasti kepikiran kira-kira gunung mana lagi yang mau ku daki. Hahaha..


Sekian dariku.

(Dari kiri ke kanan : Adeknya Ado, Afri, Ondang, Ado, Willy, Aku dan Kak Aji “Archidipala” )

(Ondang, Ado dan Aku tentunya)

Pemandangannya gak kalah seru dengan yang ada di 5 CM… Cantik sekali

 Bunga edelweiss yang mempesona.. Dulu waktu kelas 2 SMP, aku pernah ngasih nama adik tokoh utama di novelku “A Star of Spring” karena terkesan oleh bunga edelweiss, namanya Edeline Graceina,,, nyambuung dikit la… hahaha



0

Obsesi yang Tertunda


Obsesi yang Tertunda? Kenapa aku bisa mengatakan demikian. Banyak hal – hal aneh yang tidak dapat ku wujudkan dalam hidup. Dan mungkin karena fantasiku yang terlalu berlebihan. Bagaimana tidak? Banyak sederetan impian maupun keinginan yang ku lakukan sebelum aku memutuskan menjadi calon seorang arsitek. Hahahaha…

                Hal yang dulunya pertama kali aku inginkan sejak kecil (masa SD) adalah menjadi guru Sejarah atau IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial). Dulu waktu kelas 4 SD, aku beruntung mendapat guru yang menyenangkan. Pak guru, Pak Budi namanya, pak guru tersebut membuat kami bersemangat dalam belajar, karena timbul respon positif dari para siswa tersendiri (belajar aktif) dan salah satunya aku. Karena pak gurunya mengajar mata pelajaran IPS, ya tentunya aku bersemangat di mata pelajaran tersebut. Sampai – sampai dulunya aku hafal betul isi buku IPS.

Namun sejak pak gurunya pindah mengajar pada kelas 5 SD, aku mulai surut belajar. Entahlah mengapa demikian. Padahal waktu itu aku didelegasikan untuk mewakili sekolah untuk mapel IPS karena prestasiku sebelumnya. Tapi akhirnya aku digantikan oleh temanku yang lain. Padahal sebenarnya aku senang sekali waktu semua gambar petaku selalu dipajang di kelas. Dari peta Benua Asia, Eropa, maupun Indonesia. Ya, apalagi saat kelas 1 SMP, nilai mapel Sejarahku dapat 9,5 dan tertinggi di kelas. Namun, entah sejak saat itu aku tidak ingin memutuskan menjadi guru Sejarah di masa mendatang.

                Aku pernah berkeinginan menjadi ilmuwan apalagi menjadi badan antariksa. Mungkin hal ini timbul karena hobiku yang senang membaca buku tentang luar angkasa. Dulunya aku sudah tahu tentang ‘pemanasan global’ sejak teman-teman seusia ku belum paham. Walaupun entah sekarang, aku sudah tidak tahu lagi. Sampai – sampai aku ingin membuat alat yang bisa mengubah gas karbondioksida menjadi gas oksigen dengan cara menghilangkan awan, karena salah satu penyebab pemanasan global karena cahaya matahari yang terperangkap dalam bumi…..bla….bla… #pusing.. hahahaha entar panjang ceritanya.

Aku malah sempat iri dengan teman sekelasku yang pernah ditunjuk untuk menjadi duta lingkungan. Padahal aku pengen banget …. sekali. Sempat dulunya temanku geleng-geleng kepala, karena aku pernah megikrarkan diri mau menjadi astronot yang ingin bekerja di Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) dan yang ada di Rusia. Apalagi sejak gak sengaja nonton film di salah satu stasiun televisi #bukan Armageddon, kalau gak salah “Solar System”(tapi dicari2 di mbah google gak ketemu) tentang badai matahari yang bakalan melanda bumi menambah keyakinanku. Wah, seru banget filmnya, untuk menghilangkan badai matahari yang melanda bumi perlu menghancurkan kutub utara, supaya bumi dingin lagi. Hahaha… tapi tetep aja impianku gak kesampaian. Tapi sampai sekarang aku tetap menyukai hal-hal yang berbau tentang luar angkasa, meskipun terakhir kali searching tentang Planet Nibiru. Hahahaha… #Tapi udah lama sekali dan aku pernah berpikiran ngambil jurusan Geologi biar bisa kerja di Badan Meteorologi dan Geofisika

Dan terakhir aku pernah berkeinginan menjadi seorang arkeolog. Bagiku seorang arkeolog itu kereeen…  Mereka menjelajah menjadi seorang petualang, meneliti, mencari benda-benda purbakala, benda – benda yang pernah tersembunyi pada kejayaaan hidup masa lalu.. maupun situs bersejarah tertentu. Dan itu menjadi tantangan tersendiri bagi mereka dan gak mudah..

Berkelana tak tentu arah, menguak tabir kehidupan yang telah hilang, membaca – membaca beraneka huruf kuno dan peninggalan bersejarah lainnya, meneliti, menyimpulkan dan menjaganya agar bisa dikenang oleh umat manusia. Hmm… seru banget rasanya, kalau bisa mencari harta karun di Danau Kaspia, di bawah tanah Sungai …bla..bla. , menguak rahasia Segitiga Bermuda, Atlantis yang Hilang, Banjir Besar yang pernah melanda seluruh kawasan bumi, juga menemukan kembali sisa-sisa kejayaan Islam di masa lampau misalnya di kota Andalusia, Cordoba dan…. Bla…bla..bla…

Dan apalagi membayangkan pernah hidup disana, di masa – masa yang tidak semudah sekarang. Hahahaha.. Bakalan menjadi kisah pertualangan yang panjang dan menyenangkan. Tapi waktu aku mengutarakan keinginanku kepada ibuku untuk kuliah Jurusan Arkeologi, beliau menolak secara tegas. Ya, iyalah.. Hahaha. Tapi biarpun kecewa, aku tetap senang salah satu teman SMPku sekarang masuk Jurusan Arkeologi di salah satu universitas ternama di Indonesia. Mendengarnya saja sudah bahagia banget… Hahahahaha…


Dan itulah beberapa obsesiku yang tertunda. Tapi sebut saja gagal. Tapi biarpun gagal, impian tersebut masih hidup dalam sanubariku dalam bentuk yang lain… Dan aku masih senang membayangkannya, dan andaipun bisa menjadi kenyataan..
0

Jreeng....iii eeeng..

Aku mau share tentang tugas Estetika Bentuk pada Semester  1 (2012/2013), nah pada waktu itu soalnya dikasih denah dan disuruh bikin rumah di Sketch Up. Secara tidak langsung aku bikin semampuku, karena belum menguasai Sketch Up. Dan inilah hasilnya…(dengan catatan yang penting ngumpul dan udah ngerjain)#klise banget


Trus, setelah bongkar-bongkar filenya lagi, aku niat untuk buat ulang dengan beberapa perubahan ruang didalamnya dan inilah hasilnya.








Ya, menurutku lumayanlah untuk ukuran pemula sepertiku .. Yang penting ada niat mau ngerjain #hihihihi
0

Cinta itu adalah ...


Perasaan halus yang mengetuk pintu hati kita itulah cinta. Tapi itu adalah cinta kepada lawan jenis, cinta yang membuat kita mabuk kepayang (bahasa, cinta yang membuat kita mabuk kepayang (bahasa kerennya). Tapi cinta yang aku maksud disini adalah cinta yang tumbuh perlahan – lahan, menimbulkan kebiasaan dan menimbulkan naluri yang sangat dalam untuk menghargai, menyayangi, memahami, memberi tanpa mengharapkan balasan. Cinta yang lahir dari kesederhanaan rasa, kebersamaan batin, ketulusan jiwa, juga keikhlasan.

Cinta tumbuh alami, kasat mata, dan tanpa sadar kita telah memilikinya sendiri, mengenggamnya dan menempatkannya sendiri di tempat khusus di lubuk hati kita terdalam. Mereka ialah keluarga kita, ayah – ibu kita, saudara-saudara kita, juga orang-orang ynag kita cintai selain itu. Mereka ialah orang-orang yang telah memberikan kehidupan kepada kita, memberikan pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan kita, yang kadang kalau kita mau membayarnya, kita takkan mampu membayarnya sepeser pun. Itu bukan hanya hutang uang, melainkan hutang budi.

Mereka lahir dari cinta tanpa rasa pamrih, cinta yang tak mengharapkan balasan. Cinta yang lahir dan besar dari pengorbanan dan perjuangan yang panjang. Cinta yang berasal dari peluh, tangis, suka, duka, sakit, luka, kebahagiaan dan berbagai macam ujian lainnya.


Cintailah orang-orang terdekatmu. Perlakukanlah mereka dengan cinta. Karena tanpa mereka kau takkan pernah ada. 
0

Lakukanlah Sekarang!!!


                Kemarin. Hari ini dan Esok, adalah kosakata keseharian yang sering kita pakai. Bahwa kemarin adalah kemarin, hari ini adalah sekarang, dan esok adalah misteri, bisa jadi bisa tidak.

                Kemarin, segala sesuatu yang berlalu biarlah berlalu, tiada yang perlu ditangisi atau diratapi. Jika semua hal yang telah berlalu ternyata belum beres, perbaikilah sekarang. Jangan menunggu esok. Karena esok akan menjadi sekarang,… sekarang dan sekarang. Jika menunggu esok, penantian akan menjadi panjang dan menunda waktu juga keadaan.

                Hari ini, dimana kita menatap hari ini, berdiri tegak dan menatap sinar mentari pagi. Kita sadar bahwa waktu yang kita punya saat ini adalah hari ini, tak lebih dan tak kurang. Maka, sekarang maupun hari ini adalah perjalanan kita membuka lembar baru babak demi babak hidup kita untuk berdamai dengan masa lalu dan memperbaiki keadaan, juga melakukan persiapan untuk bekal esok dan masa depan yang masih misteri atau tidak ada sama sekali.

           Kesempatan kita adalah hari ini. Pergunakanlah baik-baik bahwa hari ini akan menjadi kemarin, waktu akan bergulir dan menjadikan kesempatan kita menjadi habis. Hari ini adalah waktu terbaik, lakukanlah hal yang ingin kau lakukan, lakukanlah yang terbaik untuk hari ini. Lakukanlah sekarang!!!
           Jangan menyesal, jika di akhir usia dan melihat kebelakang, tidak ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya ataupun mengulang semua yang telah terbuang sia-sia.
0

Selalu Berprasangka Baik

Suatu hari aku memikirkan tentang diriku. Aku lupa bahwasanya dulunya, aku senang sekali berprasangka baik. Hal yang kini terlupakan olehku. Mungkin karena banyak hal yang menyebabkannya.
Berparadigma setiap hal, setiap masalah selalu ada alasan yang baik dan benar untuk mengatasinya. Berprasangka baik dengan menanamkan dalam hati dan pikiran-pikiran kita bahwa ada berbagai kemungkinan-kemungkinan yang mendasari suatu hal itu terjadi.
Seperti andaikan ketika ada suatu hal yang mengganjal di hati kita, mungkin penyebabnya bisa ini, bisa itu atau juga kembali lagi kepada diri kita, mungkin siapa tahu bisa jadi kita juga penyebabnya. Seringkali berprasangka baik bersinonim dengan berpikir positif (menurutku). Dampak positif dari berprasangka baik, tentunya membuat kita tidak terlalu terbebani dengan pikiran – pikiran buruk yang menguasai diri kita. Dampak buruknya, mungkin kita akan selalu melihat setiap orang selalu baik di mata kita, ya berprasangka baik juga ada kadarnya, jangan overdosis ya.

Tapi, Allah juga menyukai orang –orang yang berprasangka baik daripada berprasangka buruk. Jadi memang sebenarnya, berprasangka baik adalah mujarab bagi kesehatan. Hahaha
0

Janganlah Lupa Untuk Berdo’a

.   
Do’a. Sepenggal kata yang seringkali kita sepelekan. Do’a sebenarnya adalah obat mujarab dalam kehidupan ini. Pengharapan, semua hal atau unek-unek, mujarab yang kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa. Do’a tak lain adalah harapan kita, setelah apa yang kita usahakan selama ini untuk kehidupan kita. Do’a meskipun hanya untaian kata-kata, pujan-pujian maupun bacaan- bacaan yang kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, tapi ialah bentuk kelemahan kita kepada Allah, bahwa sesungguhnya kita tidak lain adalah makhluk ciptaan-Nya yang lemah yang senantiasa butuh akan pertolongan-Nya.
“Ya Allah. Sesungguhnya tiada tempat meminta selain kepada Engkau “
Bahwasannya kita berdoa untuk merendahkan diri kita di hadapan-Nya, bahwa manusia yang hina ini perlu pertolongan-Nya , memohon diberi kekuataan untuk senantiasa melangkah di jalan-Nya.
Sebenarnya dengan berdo’a dapat meneduhkan hati dan pikiran, membuncahkan semangat, menghidupkan kembali mimpi-mimpi serta harapan yang sebelumnya telah pupus. Dan aku selalu berpikir bahwa do’a adalah pelita, cahaya yang bersinar ketika asa telah meredup, seperti cahaya lilin yang menerangi kegelapan, seperti setitik kepercayaan ditengah keputusasaan, seperti melodi yang memanggil untuk senantiasa berdiri bukan jatuh dan terduduk.

Berdo’alah. Sesungguhnya Allah mendengar semua do’a –do’amu. J Percayalah
0

Sunnah of Prophet Muhammad

Dulu waktu baca sebuah buku menemukan kata-kata ini,..

Sunnah of Prophet Muhammad (Peace be on him )

Remembrance of Allah is my close friend
Knowledge is my asset
Devotion is my heart
Struggle is my manner
Love is my foundation
Patience is mantle
Enthusiasm is my horse
My pleasure is my prayer
Conviction is my power
Firmness is my treasure
Sorrow is my companion

Truth is my redeemer
0

Hari - Hari Yang Penuh Cinta

Setelah membongkar-bongkar kehidupanku yang dulu, aku menemukan berbagai macam barang seperti buku, diary, pernak-pernik yang mengingatkanku tentang segala hal. Dan di antara lembaran –lembaran buku diariku, aku menemukan tulisan yang membuatku menangis, aku menyadari bahwa diriku yang semakin hari semakin berubah, bukan perubahan yang ke arah lebih baik, namun sebaliknya. Hal ini menyadarkanku tentang satu hal, kecintaanku pada Sang Khalik telah berkurang.

Hari – Hari yang Penuh Cinta

Tanda –Tanda orang yang diberi hidayah oleh Allah S.W.T adalah hatinya dilembutkan. Dirinya akan selalu menangis, karena takut melakukan maksiat di hadapan Allah. Setiap detik dan waktunya berharga, ia akan senantiasa berhati-hati dalam melangkah dalam kehidupannya. Satu langkah kecil yang salah, ia akan menangis dan beristighfar banyak sekali, ia takut karena Allah. Setiap langkah yang salah, ia akan senantiasa minta ampun kepada Allah & berusaha untuk tidak mengulanginya. Baginya kematian itu dekat dan semua hal yang telah dilakukannya akan sia-sia karena ia tidak dapat melakukan yang terbaik untuk dirinya. Ketika ia melakukan kesalahan yang paling kecil, ia akan menangis & beristighfar. Kalau ia melakukan kebaikan, ia akan bersyukur. Dan berdo’a agar jangan menjadi ria. Dia takut kebaikannya diketahui oleh orang lain. Sehingga ia melupakan kebaikannya, dan menganggap itu hal yang biasa dilakukan oleh orang lain.
Orang ini akan senantiasa memperbaiki diri. Dia selalu menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Karena ia berpikir mungkin ini hadiah dan hidayah terakhir yang Allah berikan untuknya. Ketika ia sudah diberi hidayah oleh Allah, lalu meninggalkannya. Mungkin hidayah itu takkan kembali lagi kepadanya.
Inilah adalah karunia baginya yang tak boleh disia-siakan. Ia sudah terikat oleh Allah. Cintanya selalu melambung dari hari ke hari kepada Sang Khalik. Ia begitu merindu kepada kebaikan. Ia benar-benar mencintai Tuhannya melebihi cintanya kepada manusia.
Karena dia memang makhluk ciptaan Tuhannya, yang harus bersyukur, membalas cinta Tuhannya yang tidak terhingga meski keburukannya selalu ada di hadapan Tuhannya. Ia merasa dirinya kecil, tak berdaya. Dia tahu hakikat dirinya.
Maka,…
Hidup ini baginya hanyalah sebuah perjalanan yang sementara. Dirinya dan saudara-saudaranya sedang diuji membuktikan cinta kepada Tuhannya. Karena cinta Tuhan kepada dirinya tak terhingga, dan tidak dapat dilukiskan oleh kata – kata.

Nikmatnya Islam
Back to Top